Senin, April 05, 2010

JENANG KUDUS


Mungkin bagi anda pecinta jajanan jenang, nama jenang kudus sudah tidak asing lagi. Makanan sejenis dodol ini memang sudah menjadi ikon makanan kota Kudus. Di Kudus banyak industri pembuatan jenang Kudus dengan berbagai merk jenang, tapi bagi saya pribadi hanya satu yang paling pas dan mantap di lidah yaitu jenang Kudus Mubarok. Maklum saja, jenang Mubarok, yang diproduksi PT Mubarokfood Cipta Delecia, merupakan cikal-bakal pembuat jenang di Kudus. Industri jenang ini pertama kali dirintis oleh pasangan suami-istri H Mabruri dan Alawiyah pada 1910.

Pada waktu itu, jenang tersebut belum diberi merek, bahkan masih sebatas usaha sampingan. Pekerjaan pokok Mabruri sebagai pandai besi yang tinggal di Jalan Sunan Muria, Desa Glantengan, Kudus. Jenang Kudus dibuat dari bahan campuran gula pasir, gula tebu, dan gula kelapa, ditambah tepung ketan, santan kelapa, mentega, serta aroma rasa buah--diolah dengan komposisi yang tepat. Pembuatan jenang dilakukan secara tradisional di atas tungku dengan pengapian kayu bakar. Awalnya, mereka hanya memenuhi pesanan, misalnya, untuk acara hajatan pernikahan dan khitanan. Kemudian Alawiyah memasarkan ke Pasar Jember lama, yang berada di selatan Masjid dan Menara Kudus, dengan sasaran pengunjung masjid. Ketika itu, bisa menjual 9 kilogram sehari, kata H Muhammad Hilmy, Direktur Utama PT Mubarokfood. Melihat prospeknya bagus, Mabruri menghentikan usaha pandai besinya dan konsentrasi pada usaha jenang. Ia sempat menghadapi kendala ketika minta izin merek bintang untuk jenangnya. Bahkan ketika pemerintah kolonial Belanda tahu jenang itu bahan bakunya dari gula, tepung ketan, dan kelapa, usaha itu dilarang. Namun, Mabruri tidak kalah akal. Jenangnya pun dibuat dari bahan gaplek (ketela yang dikeringkan) dicampur tepung dari isi buah mangga. Setelah dipegang generasi kedua, H A. Sochib--salah satu anak lelaki pasangan Mabruri-Alawiyah--pemasaran jenang pun semakin pesat. Pada 1943, dengan izin orang tuanya, Sochib mengajukan hak paten merek Sinar Tiga-Tiga. Merek ini diambilkan dari nomor rumahnya, yang kini masih dipertahankan untuk usahanya. Di bawah Sochib, Sinar Tiga-Tiga mampu menguasai pangsa pasar di daerah Kudus dan sebagian Jawa Tengah. Puluhan karyawan pun direkrut. Rekanan pemasok bahan baku juga dijalin. Namun, persaingan tak sehat harus dihadapi Sinar Tiga-Tiga, karena beberapa kali merek ini dipalsukan. Bahkan pada 1999, Hilmy terpaksa membawa pelakunya ke pengadilan dan mereka dihukum sembilan bulan penjara. Kini Mubarokfood mengembangkan merek jenangnya, di antaranya Mabrur, Mubarok Viva, dan Sinar Tiga-Tiga, dengan berbagai aroma rasa.
Untuk info lebih lengkapnya, kamu bisa lihat http://jenangmubarok.multiply.com/ atau datang aja langsung aja ke Kudus ya...

Senin, April 05, 2010

NASI GANDUL LHOO...

Kota Pati tentu identik dan lekat dengan nasi gandul, masakan khas dari kota Pantura ini. Sebenarnya, tak hanya nasi gandul yang melegenda dari kota asal Si Roro Mendut ini. Ada soto kemiri (asalnya dari Desa Kemiri) dan gethuk runting (asalnya dari Desa Runting). Namun, yang paling kesohor yah memang nasi gandul ini. Nasi ini berdiaspora hingga ke Yogyakarta dan Jakarta. Menu ini direkomendasikan Bondan Winarno, wartawan kuliner tenar.

Oh yah. Kalau hendak berburu nasi gandul genuine, silakan menelisik Desa Gajahmati, yang terletak di sebelah selatan Terminal Bus Pati. Adalah Almarhum Pak Melet, yang hingga kini dipercaya sebagai orang yang memopulerkan nasi gandul ini. Memang, Pak Melet sendiri bukanlah pedagang pertama nasi gandul. Awalnya, di tahun 1950-1960-an, para penjaja nasi gandul berjalan kaki sambil menggotong pikulan yang berisi kendil (kuali) kuah gandul di satu sisi, dan bakul nasi di sisi lainnya. Lambat laun, para pedagang lebih memilih menetap dengan membuka sebuah warung atau memanfaatkan ruang depan rumahnya untuk berjualan.

Nah, pola jualan yang sebelumnya ideran (mengedarkan dengan jalan kaki berkeliling) dan berubah menjadi buka warung ini, nampaknya sebangun juga dengan sejarah warung bubur kacang ijo (burjo). Burjo kini menjadi santapan wajib para pelajar dan mahasiswa yang hidup di rantau dengan ngekos atau menjadi kontraktor –maksudnya masih tinggal di rumah kontrakan, hehehe… Jika burjo terkenal di kota-kota pelajar seperti Yogyakarta, Malang, Surabaya, Bandung, Jakarta, dan lain-lain, nah hanya nasi gandul yang mengecambah di Pati.

Mungkin menarik jika kita bisa menelusuri seluk-beluk dan perkembangan masakan khas lainnya. Dan bukan mustahil, bisa kita tuangkan ke dalam tulisan tersendiri. Kembali ke nasi gandul. Karena awalnya digotong dengan pikulan itulah, dia disebut nasi gandul. Gandul sendiri artinya menggantung. Pikulan itu naik-turun seiring dengan langkah si penjaja.

Kini hampir tidak kita jumpai penjaja nasi gandul yang ideran. Mereka lebih memilih jualan stationaire di warungnya. Tapi, uniknya, pikulan tersebut tetap dipakai di depan meja utama. Kayak apa sih nasi gandul itu? Nasi ini, sekilas seperti rawon. Kuahnya coklat kemerahan. Gandul asli yang dijajakan di Pati disajikan di atas piring bulat. Di atas piring terdapat sebuah potongan daun pisang sebagai alas. Jenis pisangnya adalah pisang kluthuk (pisang biji). Hal ini agar memberikan aroma nan segar terhadap kuah. Di dalam kuahnya terdapat thethelan (potongan) daging dan gajih (lemak) sapi. Jangan kuatir! Saat ini, para pedagang nasi gandul memodifikasi kuah nan bersantan ini hanya dengan daging, zonder lemak. Jadi, nasi gandul nampaknya tetap aman dinikmati oleh pengidap kolesterol.

Setelah nasi putih diguyur kuah beserta beberapa potong thethelan, rasanya kok ada yang kurang. Nah, Anda bisa menambahkan lauk. Uniknya, lauk ini berasal dari semua organ sapi. Ada otak, lidah, daging, paru, jantung, usus, babat buku, babat handuk, babat jala, kikil, kulit, dan lain sebagainya. Jika Anda sedang menghindari makanan hewani, nah, ini dia! Silakan lengkapi nasi gandul dengan sebuah perkedel atau tempe goreng. Tempe goreng ini unik. Si tempe begitu garing dan krispi sewaktu digigit. Ternyata, rahasianya, tempe direbus dulu dengan santan sebelum digoreng. Tentu ini agak berbeda dengan nasi gandul yang dijual di kota lain. Meski si empu warung (setidaknya mengaku) dari Pati, nasi gandulnya sudah disesuaikan sana-sini. Misalnya, di Jakarta, lauknya sudah terpotong-potong ke dalam kuah. Kita tak perlu memesan lauk yang tersendiri. Pernah saya menikmati nasi gandul di Yogyakarta. Potongan lauknya lebih kecil. Dalam seporsi, kita bisa memilih dua jenis lauk itu. Bisa daging (empal) dan usus, empal-kikil, dan lain-lain. Apapun modifikasinya, baik Pati asli maupun sesuaian, tetap nikmat kok.

Nah, karena nasi gandul ini disajikan dengan alas piring daun pisang, kuah dan nasi tak menyentuh dasar piring atau seakan menggantung. Karena itulah, nasi ini disebut nasi gandul. Versi ini sekaligus melengkapi versi pertama. Argumentasinya, jika nasi gandul diedarkan dengan pikulan, burjo dulunya juga dipikul. Minuman dawet, yang sudah ada sejak zaman sebelum Kerajaan Demak, pun dipikul. Nasi soto dulunya juga dijual dengan dipikul. Kenapa hanya nasi ini yang disebut nasi gandul? Jenis makanan lainnya, yang dijual ideran dengan pikulan kok tidak dinamakan gandul? Dus, sendoknya terbuat dari daun pisang juga. Namanya suru. Sebagian ada yang bilang nyuru, nyiru. Bagi yang belum terbiasa memakai sendok daun pisang, tak usah kuatir. Setiap warung kini menyediakan sendok logam.

Nah, buat kamu - kamu yang berkesempatan jalan - jalan ke kota jayapura dan ingin menikmati nasi gandul bisa mampir di Warung Nasi gandul Pak Dhe Degek di komplek APO dok 2 Jayapura. Kalo masalah rasa sih ga jauh beda kok ma yang ada di jawa. Cuma harganya aja yang agak sedikit lebih mahal. Tapi masih kejangkau lah untuk standar anak koz.. Kamu juga bisa gabung di grup facebook nasi gandul pak dhe Degek. Selamat menikmati deh...